MOTIVASI BELAJAR BAHASA ARAB

FAHIMNA COVER[Ngawam]

Jika kamu menguasai bahasa Inggris dan bahasa Arab:

Jika kamu ingin lebih cepat menguasai ilmu dunia, kamu bisa; dengan bahasa Inggrismu.
Jika kamu ingin lebih cepat menguasai ilmu tentang syariat Sang Pencipta dunia, kamu bisa; dengan bahasa Arabmu.

Jika kamu ingin memahami bahasa keumuman manusia, kamu bisa.
Jika kamu ingin memahami bahasa kalam Pencipta manusia, kamu bisa.

Jika kamu ingin memahami dokumen tentang ilmu dunia apapun bergelimangnya, hingga ribuan artikel, kamu bisa.
Jika kamu ingin memahami literatur tentang ilmu agama apapun bergelimangnya, hingga ribuan jilid kitab, kamu bisa.

Tapi, selagi bahasa Inggrismu lemah, duniamu tak begitu luas. Pergi ke negeri lain, kendalamu di lisan dan telinga. Apakah kamu gagu dan bolot di negeri orang?

Dan, kamu tidak mungkin melepaskan diri dari ‘keawaman’ juga ‘taqlid’ selama tidak menguasai bahasa Arab, minimal bisa memahami tulisan dan percakapan. Ehm, meskipun kamu menuding orang yang tak semanhaj denganmu itu awam, atau tukang kuli bangunan itu awam, tapi sebenarnya kamu itu punya kesamaan dengan mereka; yaitu kesamaan tidak mengerti bahasa Arab.

Toh, kebanyakan manusia memang ingin melabeli diri seolah-olah punya atau layak diposisikan lebih tinggi, sembari mengatakan orang selainnya itu lebih rendah derajatnya, padahal kalau akalnya mau dipakai sedikit saja, ia justru akan melihat kesamaan derajat di beberapa sisi.

Tidak faham bahasa Al-Qur’an dan Hadits tapi tidak mau disebut ‘awam’?

Wong yang sudah faham bahasa tersebut saja kadang masih rela disebut ‘awam’. Dan jika seseorang sudah faham bahasa Pencipta manusia dan jin pun, tidak berarti keluar dari ‘keawaman’. Nah, kok ini yang belajar memahami bahasa tersebut saja enggan, malah merasa diri sudah keluar dari ‘keawaman’?

Kalau memang bukan orang awam, kenapa ga jadi ustadz aja, mas? Atau, jangan-jangan, sampeyan ini yang di depan orang ‘awam’ merasa diri sudah di atas mereka, namun ketika di depan orang ‘alim’ tiba-tiba beradaptasi dan menciutkan diri menjadi orang ‘awam’? Wah, keawaman dan kealiman ternyata ada di kulit bunglon pula.

Copas dari status Ust. Hasan Al-Jaizy hafizhhullah[Ngawam]

Jika kamu menguasai bahasa Inggris dan bahasa Arab:

Jika kamu ingin lebih cepat menguasai ilmu dunia, kamu bisa; dengan bahasa Inggrismu.
Jika kamu ingin lebih cepat menguasai ilmu tentang syariat Sang Pencipta dunia, kamu bisa; dengan bahasa Arabmu.

Jika kamu ingin memahami bahasa keumuman manusia, kamu bisa.
Jika kamu ingin memahami bahasa kalam Pencipta manusia, kamu bisa.

Jika kamu ingin memahami dokumen tentang ilmu dunia apapun bergelimangnya, hingga ribuan artikel, kamu bisa.
Jika kamu ingin memahami literatur tentang ilmu agama apapun bergelimangnya, hingga ribuan jilid kitab, kamu bisa.

Tapi, selagi bahasa Inggrismu lemah, duniamu tak begitu luas. Pergi ke negeri lain, kendalamu di lisan dan telinga. Apakah kamu gagu dan bolot di negeri orang?

Dan, kamu tidak mungkin melepaskan diri dari ‘keawaman’ juga ‘taqlid’ selama tidak menguasai bahasa Arab, minimal bisa memahami tulisan dan percakapan. Ehm, meskipun kamu menuding orang yang tak semanhaj denganmu itu awam, atau tukang kuli bangunan itu awam, tapi sebenarnya kamu itu punya kesamaan dengan mereka; yaitu kesamaan tidak mengerti bahasa Arab.

Toh, kebanyakan manusia memang ingin melabeli diri seolah-olah punya atau layak diposisikan lebih tinggi, sembari mengatakan orang selainnya itu lebih rendah derajatnya, padahal kalau akalnya mau dipakai sedikit saja, ia justru akan melihat kesamaan derajat di beberapa sisi.

Tidak faham bahasa Al-Qur’an dan Hadits tapi tidak mau disebut ‘awam’?

Wong yang sudah faham bahasa tersebut saja kadang masih rela disebut ‘awam’. Dan jika seseorang sudah faham bahasa Pencipta manusia dan jin pun, tidak berarti keluar dari ‘keawaman’. Nah, kok ini yang belajar memahami bahasa tersebut saja enggan, malah merasa diri sudah keluar dari ‘keawaman’?

Kalau memang bukan orang awam, kenapa ga jadi ustadz aja, mas? Atau, jangan-jangan, sampeyan ini yang di depan orang ‘awam’ merasa diri sudah di atas mereka, namun ketika di depan orang ‘alim’ tiba-tiba beradaptasi dan menciutkan diri menjadi orang ‘awam’? Wah, keawaman dan kealiman ternyata ada di kulit bunglon pula.

Copas dari status Ust. Hasan Al-Jaizy hafizhhullah
https://www.facebook.com/hasaneljaizy?hc_location=stream

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: