PEMBAHASAN TINGKAT TINGGI

**[[ Ka Yauma atau Ka Yaumi ]]**

Setelah Ramadhan, biasanya ada satu hadits yang cukup terkenal; hadits tentang puasa 6 hari di bulan Syawal. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa siapa yang berpuasa 6 hari di Syawal maka akan diampuni dosanya sebagaimana anak yang baru dilahirkan. Haditsnya adalah:

(من صام رمضان، وأتبعه ستاً من شوال؛ خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه). موضوع

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, lalu berpuasa 6 hari di Syawal maka dia akan keluar dari dosanya sebagaimana saat terlahir dari ibunya. (HR. At-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 8/275)

Meski hadits ini dinilai MAUDHU’ oleh Nashiruddin al-Albani. (lihat: Nashiruddin al-Albani; w. 1420 H, Silsilat al-Ahadits ad-Dhaifah, hal. 11/309, no. 5190)
Tapi bukan sanad hadits yang akan dibahas, melainkan i’rabnya. Pada lafadz ” yaum” yang didahului huruf jar ”kaf”, apakah dibaca yaumi (kasrah) atau yauma (fathah)?

*[ Mari Kita Bahas ]*

Dilihat dengan ilmu nahwu sederhana, sepertinya yang benar adalah ”yaumi” dibaca kasrah karena majrur oleh huruf jar ”kaf”. Ini benar dan memang kebanyakan orang membaca ”yaumi” dengan kasrah. Maka bacanya: ka yaumi waladathu ummuh.

Tapi jika menurut ilmu nahwu yang lebih tinggi lagi levelnya, justru yang yang lebih fashih dan dipilih oleh para pakar bahasa adalah dibaca ”yauma” dengan fathah.

Lho, bukannya ada huruf jar-nya? Harusnya dibaca jar dong. Nah, disinilah. Orang yang sedikit ilmunya, akan banyak inkarnya. Jika baru belajar nahwu kitab Ajrumiyyah, hendaknya jangan mudah menyalahkan yang sudah level kitab Alfiyyah Ibn Malik.

Hal itu bisa kita baca dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik karya Muhammad bin Abdullah at-Thai (w. 672 H), beliau berkata:

وابن أو اعرب ما كإذ قد أجريا … واختر بنا متلوّ فعل ٍ بنيا

Bacalah mabni atau mu’rob, dharaf yang seperti idz (dharaf yang mudhaf kepada jumlah tetapi tidak wajib), dan pilihlah membaca mabni jika fi’il setelahnya adalah fi’il mabni.

Ibnu Aqil al-Hamdani (w. 769 H) menjelaskan lebih lanjut. Dharaf yang boleh mudhaf kepada jumlah itu boleh mabni dan boleh mu’rob. Tetapi yang lebih dipilih ketika jumlah fi’liyyah dan fi’ilnya adalah fi’il madhi itu mabni. (Ibnu Aqil al-Hamdani; w. 769 H, Syarah Ibnu Aqil li Alfiyyah, hal. 3/58).

Ibnu Hisyam (w. 761 H) dalam kitab Audhah al-Masalik menguatkan:

ويجوز في الزمان المحمول على “إذا” أو “إذ” الإعراب على الأصل، والبناء حملا عليهما؛ فإن كان ما وليه فعلا مبنيا؛ فالبناء أرجح للتناسب

Dharaf zaman yang seperti idza atau idz itu boleh mu’rob sebagaimana asalnya, dan boleh juga mabni. Jika fi’il setelahnya adalah fi’il mabni (selain mudhari’) maka mabni itu lebih rajih, karena lebih sesuai. (Ibnu Hisyam; w. 761 H, Audhah al-Masalik, hal. 3/111).

Maka pada lafadz [كيوم ولدته أمه], ”yauma” mabni fathah karena fi’il setelahnya berupa fi’il madhi. ”Yauma” mabni fathah fi mahalli jarrin. Maka bacanya: ka yauma waladathu ummuh.

Sebagaimana jika fi’il setelahnya adalah fi’il mu’rob, yaitu fi’il mudhari’. Maka ”yaum” lebih baik mu’rob. Seperti contoh:

هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ

(QS. Al-Maidah: 119). “Yaumu” dibaca dhammah karena menjadi khabar yang dibaca rafa’.

*[ Semakin Tahu Semakin Tak Tegas ]*

Begitulah, menjadi lebih tahu adalah salah satu tujuan dari belajar. Tapi tak jarang, menjadi lebih tahu malah menjadikan seseorang tidak tegas dalam menentukan suatu pilihan.

Bagitu juga dalam menjawab pertanyaaan-pertanyaan hukum syariat. Orang yang tahu banyak, cenderung tidak tegas dalam menjawab dan terkasan permisif. Berbeda dengan yang baru tahu satu saja, biasanya tegas; ini boleh itu tidak boleh, ini surga itu neraka.

Seorang yang baru level kitab Ajrumiyyah, biasanya lebih tegas dalam menjawab daripada seorang yang sudah level Alfiyyah Ibn Malik.

Selama mau belajar, insyaAllah keinginan untuk menambah pengetahuan itu akan terus ada. Maka seharusnya, orang yang baru belajar kitab nahwu Ajrumiyyah tidak mudah menyalahkan orang yang sudah belajar level Alfiyyah Ibn Malik.

Benar tahu tak hanya sok tahu. Tahu dan mengerti bahwa kita tahu. Bukan tak tahu dan sok tahu bahwa kita tahu.

 

Copas dari statusnya Luthfi Abdu Robbihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: