CATATAN ILMU NAHWU: KENAPA “BIRRO”, BUKAN “BIRRU”?

P1120973Pagi tadi, saat saya mengaktifkan HP, tiba-tiba masuk sebuah SMS. Isinya sebagai berikut:

“Assalamu’alaykum.. Kemarin saya beli kitab fahimna, belajar bahasa arab secarah otodidak, dalam penjelasan KAANA Dan saudara saudaranya, Termasuk Laysaa !!! Tapi ko dalam surah Al-Baqara “Laysal_Birra  an_tuwallu wujuhakum.. Knapa bukan biRru ?? Apakh demikian pengecualian dalam kaedah nahwu atau ada kaedah lainnya, mohon penjelasannya ustad.” (Selesai kutipan)

Setelah membaca SMS ini fikiran saya langsung melayang ke sebuah kitab. Judulnya “التعليقات الجلية على شرح المقدمة الآجرومية” karya salah seorang murid dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Kitab ini berisi penjelasan tambahan (catatan kaki) terhadap penjelasan kitab “المقدمة الآجرومية” oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Mungkin ada baiknya saya ceritakan sedikit tentang kitab “التعليقات الجلية على شرح المقدمة الآجرومية” ini.

Jadi begini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah menyampaikan pelajaran berupa penjelasan kitab Nahwu tingkat dasar yang berjudul “المقدمة الآجرومية”. Kitab Nahwu ini terkenal di seluruh dunia dan biasa dijadikan pijakan awal dalam belajar ilmu Nahwu. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah kemudian menjelaskan isi kitab ini dan penjelasan beliau direkam dalam kaset. Beliau menjelaskan kitab ini dari tanggal 28 Shafar 1410 H hingga Rabi’ul Akhir 1411 H. Oleh salah seorang murid beliau yang bernama Abu Anas Asyrof bin Yusuf bin Hasan kemudian rekaman penjelasan beliau ditranskrip dan diberi penjelasan tambahan dalam catatan kaki. Maka lahirlah kemudian sebuah kitab dengan judul “التعليقات الجلية على شرح المقدمة الآجرومية”.

Bagi kawan-kawan yang telah melewati kitab Nahwu-Shorof tingkat dasar dan sudah bisa baca kitab gundul, saya sarankan untuk mempelajari kitab ini. Banyak sekali pengetahuan baru yang nantinya akan kawan-kawan dapatkan di dalamnya.

Baiklah. Sekarang kembali ke pertanyaan di atas. Dalam kitab “التعليقات الجلية على شرح المقدمة الآجرومية”, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang LAISA. Berikut ini terjemahan bebas dari perkataan beliau sekaligus sebagai jawaban dari SMS di atas.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

Photo-0310

“Dan perkataan beliau (Maksudnya penulis kitab Al-Ajurrumiyyah-Pent) rahimahullah: “ليس”. “” Juga termasuk saudari-saudarinya “كان”. Fungsinya merofa’kan mubtada dan menashobkan khobar. Misalnya engkau berkata:

لَيْسَ الْبِرُّ أَنْ تَمْنَعَ إِحْسَانَكَ عَنْ أَبِيْكَ

“Bukanlah suatu kebaikan engkau menahanan perbuatan baikmu dari ayahmu”

Namun terdapat permasalahan di dalam Al-Qur’an pada firman Allah Subahanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوْا

“Bukanlah sebuah kebaikan kalian menghadapkan …” (QS. Al-Baqarah: 177)

Yaitu bahwasanya kalian mengatakan: Sesungguhnya “ليس” berfungsi merofa’kan mubtada dan menashobkan khobar, tapi di sini kok tertulis “الْبِرُّ” manshub?

Maka jawaban dari permasalahan ini adalah kami katakan: Ulama berkata bahwa terkadang khobar dikedepankan dari isimnya. Terkadang engkau katakan:

كَانَ قَائِمًا زَيْدٌ

“Adalah berdiri Si Zaid itu”

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَ كَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”. (QS. Ar-Ruum: 47)

Yakni terkadang khobar dikedepankan.

Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوْا

Ini termasuk pengedepanan khobar. Maksud dari ayat ini adalah:

لَيْسَ تَوْلِيَتُكُمْ وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ هُوَ الْبِرَّ

“Bukanlah menghadapkan wajah-wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan…” (QS. Al-Baqarah: 177)

(Selesai terjemahan dari halaman 470)

>>> TAMBAHAN PENJELASAN

Untuk menambah kejelasan, berikut ini saya (Muhammad Mujianto al-Batawie) akan berikan I’rob singkatnya:

“ليس”: FI’IL MADHI NAQISH, MABNI, TETAP DI ATAS HAROKAT FATHAH

“البر”: KHOBAR LAISA MUQODDAM, MANSHUB, FATHAH, ISIM MUFROD

“أن”: HURUF NASHOB & MASDAR, MABNI, TETAP DI ATAS HAROKAT SUKUN

“تولوا”: FI’IL MUDHORE DIWALI OLEH AMIL NASHOB, HAZFUN NUN, AF’ALUL KHOMSAH

Lho. Lalu mana ISIM  LAISANYA?

ISIM LAISANYA adalah MASHDAR MUAWWAL yang terbentuk dari AN + FI’IL MUDHORE. Diperkirakan kalimatnya adalah sebagai berikut:

لَيْسَ تَوْلِيَتُكُمْ وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ هُوَ الْبِرَّ

Demikisan saja. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

Bogor, Selasa pagi 18 Februari 2014

Muhammad Mujianto Al-Batawie

# Penjelasan lebih lanjut tentang MASHDAR MUAWWAL bisa dibaca di KITAB FAHIMNA TINGKAT PEMANTAPAN.

One Response to CATATAN ILMU NAHWU: KENAPA “BIRRO”, BUKAN “BIRRU”?

  1. Ridwan Salam ibnu abdul qodir says:

    Sayyia yang bertanya tadi pagi mass, Syukron ya mas, jawabanya sangat lengkap dan mudah di pahami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: