KENAPA? ADA YANG TAU? (INILAH JAWABAN SAYA….)

huruf illatSebelum menjawab pertanyaan yang ada DI SINI, saya ingin sampaikan kepada kawan-kawan bahwa pembahasan ini tidak saya jumpai di KITAB-KITAB NAHWU (BERBAHASA ARAB) yang dahulu pernah saya baca. Tidak juga di KITAB NAHWU LANJUTAN. Lalu kenapa bisa muncul pertanyaan ini?

Ceritanya begini….

Pada tahun 2009 saya mengikuti pelatihan bahasa Arab tingkat menengah di Ponpes Al-Furqon Gresik. Kitab yang digunakan adalah KITAB MULAKHOS. Saat pembahasan ILMU SHOROF, dibahas tentang ISIM MAQSHUR & ISIM MANQUSH. Kemudian timbul pertanyaan di benak saya. Kenapa kok isim yang berakhiran huruf wawu (yang harokat sebelumnya dhommah) tidak diberi istilah khusus? Padahal kan huruf illat ada tiga:Alif, wawu, dan ya.

Lalu, saya pun tanyakan tentang hal ini kepada ustadz yang mengajar. Ternyata ustadz yang mengajar pun tidak tahu. Selesai dauroh saya coba tanyakan kepada kawan saya yang lulusan LIPIA. Dia sudah bergelar Lc. Ternyata dia juga tidak tahu jawabannya. Mungkin beliau sudah lupa karena memang kaidah nahwu akan mudah terlupakan kalau tidak kita muroja’ah. Saya sendiri pernah hampir satu tahun lamanya tidak buka-buka buku nahwu. Saya pun kemudian lupa dengan banyak istilah ilmu nahwu. Ketika saya muroja’ah, baru kemudian saya ingat kembali.

Saya pun kemudian jadi teringat dengan seorang kawan yang ikut forum bahasa Arab yang diasuh oleh pakar bahasa Arab dari Kanada. Untuk ikut forum ini kalau tidak salah harus bayar belasan juta. Pesertanya berasal dari seluruh dunia. Kata pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris. Saya minta kawan saya ini untuk mengajukan pertanyaan saya ini di forum. Alhamdulillah kemudian dijawab.

Kurang lebih jawabannya begini:

Dalam bahasa Arab, jika ada sebuah isim yang berakhiran WAWU dan harokat sebelumnya DHOMMAH, maka huruf WAWU harus diubah menjadi YA dan harokat sebelumnya harus diubah menjadi KASROH. Kaidah ini bisa kita dapati dalam ilmu Shorof. Misalnya saja isim-isim berikut:

“التداعي” (د-ع-و)

“التسامي” (س-م-و)

“الترجي” (ر-ج-و)

“التخلي” (خ-ل-و)

Bentuk asalnya adalah:

“التداعو” (Berasalah dari wazan “تَفَاعُلٌ”)

“التسامو” (Berasalah dari wazan “تَفَاعُلٌ”)

“الترجو” (Berasalah dari wazan “تَفَعُّلٌ”)

“التخلو” (Berasalah dari wazan “تَفَعُّلٌ”)

Pengecualian dari kaidah ini datang dari isim yang berasal dari non-Arab. Misalnya nama orang atau nama tempat. Untuk isim yang berasal dari non-Arab penulisannya sesuai dengan yang terdengar, tidak bisa diubah-ubah. Misalnya:

“طوكيو” (TOKYO)

“سوكارنو” (SUKARNO)

Dll.

Atau, dikeculikan dari kaidah ini juga nama yang diambil dari kata yang berakhiran wawu dan harokat sebelumnya dhommah. Misalnya, nama orang yang diambil dari fi’il-fi’il berikut:

“ينمو” (YANMU)

“يسمو” (YASMU)

Dll.

Karena isim jenis ini (yaitu yang berakhiran wawu dan harokat sebelumnya dhommah) pada asalnya berasal dari non-Arab dan jarang digunakan dalam bahasa Arab, maka ulama Nahwu mengabaikannya. Mereka tidak membuat istilah khusus untuk isim jenis ini.

Namun, yang jadi pertanyaan: Bagaimana cara meng-I’rob isim jenis ini?

Jawaban yang saya dapat, isim jenis ini di-I’rob dengan harokat muqoddaroh: dhommah muqoddaroh, fathah muqoddaroh, dan kasroh muqoddaroh.

Contohnya:

جاء سوكارنو

“Sukarno telah datang”

I’ROB “سوكارنو”: FA’IL, MARFU’, DHOMMAH MUQODDAROH

رأيت سوكارنو

“Aku melihat Sukarno”

I’ROB “سوكارنو”: MAF’UL BIH, MANSHUB, FATHAH MUQODDAROH

سلمت  على سوكارنو

“Aku memberi salam kepada Sukarno”

I’ROB “سوكارنو”: MASBUQ BI HARFIL JAR, MAJRUR, FATHAH MUQODDAROH (Merujuk pada ISIM GHOIRU MUNSHORIF, NAMA ASING)

Demikian saja. Semoga bermanfaat. Silakan jika ada yang ingin menambahkan.

Wallahu a’lam.

Oh ya, ada yang kelupaan. Ada pembaca FAHIMNA yang bertanya “Kenapa pembahasan ini tidak ada di kitab FAHIMNA?”

Jawaban saya, jika ada sebuah pembahasan tidak ada di KITB FAHIMNA, maka ada beberapa kemungkinan:

Pertama, menurut saya tidak penting untuk dibahas di KITAB FAHIMNA karena KITAB FAHIMNA diperuntukkan untuk pemula dan saya menghindari pembahasan yang berpotensi untuk menimbulkan kebingungan.

Kedua, saya lupa untuk memasukkannya. Oleh karena itu saya berharap masukan dari kawan-kawan semua.

Terkait pembahasan kita kali ini, saya tidak memasukkannya di KITAB FAHIMNA karena alasan pertama. Dan sebagaimana penjelasan saya di awal, pembahasan ini tidak dijumpai di KITAB NAHWU DASAR & MENENGAH (yang pernah saya baca). Jadi kawan-kawan tidak perlu khawatir kalau tidak tahu hal ini. Insya Allah tidak akan menghambat proses belajar kawan-kawan semua. Saya sampaikan di sini hanya untuk menambah wawasan.

Demikian.

Bogor, Sabtu pagi 5 Jumadal Ula 1435H/7 Maret 2014

Muhammad Mujianto Al-Batawie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: