3 LANGKAH PRAKTIS MENERJEMAHKAN (ARAB – INDONESIA)

cover mendakwahi ortuTulisan ini bisa dibilang ringkasan dari tulisan saya sebelumnya tentang cara menerjemahkan tulisan bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Saya berikan tambahan contoh. Semoga bisa lebih mudah difahami dan dipraktikkan.

 

Berikut ini tiga langkah praktis yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan terjemahan yang baik dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia:

 

  1. Fahami arti setiap kata yang ada di dalam tulisan berbahasa Arab yang hendak kita terjemahkan.
  2. Fahami maksud tulisan secara keseluruhan.
  3. Terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang mudah difahami.

 

 

Contoh:

لا إله إلا الله

Kalau kita terjemahkan secara perkata jadinya seperti ini:

“Tiada sesembahan selain Allah”

Atau orang sekarang sering menerjemahkannya:

“Tiada tuhan selain Allah”[1]

 

Namun kalau kita fahami makna kalimat ini secara seksama berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits serta penjelasan para ulama di kitab-kitab aqidah mereka, maka terjemahan yang tepat adalah:

 

“Tiada ilah (sesembahan) yang berhak untuk diibadahi selain Allah”

 

Contoh lain:

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Israa (17) ayat 29:

 

و لا تجعل يدك مغلولة إلى عنقك و تبسطها كل البسط

 

Kalau diterjemahkan hanya berdasarkan makna kata perkata akan menjadi begini:

 

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya…”

 

Tentu saja kita belum faham maksudnya, bukan? Perlu ada penjelasan. Dan kalau kita baca tafsirnya, akan kita dapati maksud ayat ini:

 

“Dan janganlah kamu bersikap kikir dan janganlah kamu bersikap boros…”

 

Namun, kalau kita terjemahkan seperti ini, kita jadi tidak bisa merasakan gaya bahasa al-Qur’an. Tentu kalimatnya menjadi biasa-biasa saja. Sehingg mungkin lebih enak kalau kita terjemahkan begini:

 

 

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (boros)…”

 

Contoh lain lagi:

 

Dalam kitab berjudul “أثر العبادات في حياة المسلم” karya Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah hal 6 terdapat kalimat begini:

 

ثم إن العبادة لا بد في قبولها من شرطين

 

Jika diterjemahkan secara perkata oleh para pelajar pemula bisa jadi akan begini hasilnya:

 

“Kemudian, sesungguhnya ibadah itu harus diterimanya dari dua syarat”

 

Gimana, fahamkan Antum? Kalau saya sih masih bingung. Dan yang lebih enak setelah kita fahami isinya adalah begini:

 

“Kemudian, sesungguhnya ibadah itu agar bisa diterima oleh Allah harus terpenuhi dua syarat”

 

Gimana? Antum setuju dengan terjemahan saya ini?

 

Barangkali ini saja yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat.

 

Wallahu a’lam.

 

 

Bogor, Ahad sore 27 Jumadal Akhiroh 1435H/27 April 2014

 

Muhammad Mujianto al-Batawie

 

 

 

 

[1] Terjemahan ini banyak dikritik oleh para ahli ilmu. Paling tidak ada dua kesalahan:

–          Jika dikatakan “Tiada tuhan selain Allah”, maka berarti maknanya semua tuhan-tuhan yang ada itu adalah Allah. Hal ini tentu saja keliru.

–          Jika dikatakan “Tiada tuhan selain Allah” yang maksudnya “Tuhan itu hanya Allah”, maka ini juga keliru. Kenapa? Sebab secara realita ada tuhan-tuhan (ilah) yang disembah selain Allah oleh manusia. Dan Allah menamakan tuhan-tuhan itu dalam al-Qur’an dengan sebutan ilah. Jadi terjemahan ini menyalahi al-Qur’an dan juga realita. Lalu, bagaimana yang benar? Lihat terjemahan yang saya berikan di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: