CARA MENERJEMAHKAN TULISAN BERBAHASA ARAB

pensil dan penghapusBagi Antum yang ingin mendapatkan penjelasan rinci bin mendetail tentang cara menerjemahkan tulisan berbahasa Arab, saya persilakan untuk membaca sendiri di buku-buku yang membahas hal ini. Misalnya buku “دليل الكاتب و المترجم” (Pedoman untuk Penulis dan Penerjemah) terbitan PT. Moyo Segoro Agung Jakarta. Atau buku lainnya yang bisa diperoleh di toko buku.

Pada kesempatan ini saya hanya akan memberikan penjelasan secara umum tentang cara menerjemahkan. Dan pembahasan ini saya peruntukkan khusus untuk kawan-kawan yang baru belajar bahasa Arab (Nahwu-Shorof) di tingkat dasar. Semoga bisa memberikan sedikit pencerahan. Bagi yang sudah jago bahasa Arabnya, silakan saja kalau mau baca. Saya tidak larang.

 

Begini. Sebuah tulisan berbahasa Arab bisa kita terjemahkan paling tidak dengan dua cara:

 

>>> Dengan menerjemahkan secara lafzhiyah (kata perkata)

 

Jadi terjemahan berisi arti dari setiap kata yang ada di dalam tulisan berbahasa Arab. Contohnya bisa kita dapati –misalnya- di buku TERJEMAH AL-QUR’AN SECARA LAFZHIYAH yang diterbitkan oleh Yayasan Pembinaan Masyarakat Islam “Al-Hikmah” Jakarta. Kalau tidak salah totalnya ada sekitar 11 jilid. Menurut saya buku ini sangat bagus untuk kita yang ingin tau makna setiap kata yang ada di dalam ayat al-Qur’an.

>>> Dengan menerjemahkannya secara bebas

 

Jadi sebuah tulisan berbahasa Arab difahami dulu maknanya. Awalnya dilakukan terjemah lafzhiyah di dalam kepala. Kemudian difahami. Baru setelah itu diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang awam. Terkadang dalam terjemahan bebas terdapat kata yang tidak ada dalam tulisan aslinya yang berbahasa Arab. Namun maksudnya masih sama.

 

Misalnya:

 

قبل الرماء تملأ الكنائن

 

[TERJEMAH LAFZHIYAH]

“Sebelum memanah, tabung tempat anak panah dipenuhi dulu”

[TERJEMAH BEBAS]

“Sedia payung sebelum hujan”

 

Lalu, manakah cara yang paling bagus?

 

Kalau saya pribadi lebih senang membaca buku yang diterjemahkan secara bebas. Sebab biasanya akan lebih mudah difahami. Berbeda halnya dengan terjemahan secara lafziyah yang terkadang butuh beberapa detik lamanya untuk bisa mencerna maksud tulisan.

 

Coba kita perhatikan contoh berikut:

 

Misalnya kita ambil perkataan Imam Al-Barbahari rahimahullah di dalam kitab Syarhus Sunnah. Beliau berkata:

 

اعلموا أن الإسلام هو السّنة، و السّنة هي الإسلام، و لا يقوم أحدهما إلا بالآخر

 

Kalau kita terjemahkan secara lafzhiyah, akan jadi begini:

 

“Ketahuilah oleh kalian bahwa Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, dan tidak akan tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lain

 

Kira-kira Antum faham tidak maksudnya? Bisa jadi perkataan ini akan difahami bahwa Islam dan Sunnah tidak akan tegak kecuali dengan hal-hal lain. Namun, bagi saya hal ini belum jelas dan butuh penjelasan lebih lanjut. Apa maksudnya “dengan yang lain” pada perkataan ini? Intinya, saya masih belum bisa memahami terjemahan ini dengan sekali baca.

 

Sekarang, coba bandingkan dengan terjemahan ini:

 

“Ketahuilah oleh kalian bahwa Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, dan keduanya tidak bisa dipisahkan

 

Nah, dengan diterjemahkan secara bebas seperti ini menurut saya perkataan ini akan lebih mudah difahami sesuai dengan yang dimaksud oleh Imam Al-Barbahari rahimahullah. Bagaimana menurut Anda?

 

Contoh lain lagi.

 

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah besabda begini:

اللهم لا خير إلا خيرك، ولا طير إلا طيرك، ولا إله غيرك

Jika orang yang baru belajar bahasa Arab tingkat dasar dan dia belum belajar tentang aqidah mungkin akan menerjemahkan begini:

 

“Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, dan tiada burung kecuali burungmu, dan tiada sesembahan selain engkau”

 

Ini juga contoh terjemah secara lafzhiyah. Kira-kira Anda faham maknanya? Kalau saya masih belum faham. Ada apa memangnya dengan burung?

 

Namun, kalau hadits ini diterjemahkan secara bebas, terjemahan bisa jadi seperti ini:

 

 

Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau; tiada kesialan kecuali kesialan dari yang telah Engkau tetapkan; dan tiada Sembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Engkau.”

 

Nah, insya Allah dengan terjemahan seperti ini hadits di atas lebih bisa difahami dengan pemahaman yang benar.

 

>>> KESIMPULAN

 

Dari uraian singkat di atas saya ingin menyampaikan beberapa hal berikut:

 

  1. Terjemahan yang lebih mudah difahami adalah terjemahan bebas.Ini menurut saya, lho!🙂
  2. Untuk bisa menerjemahkan dengan baik, seseorang harus banyak memiliki mufrodat.
  3. Untuk bisa menerjemahkan dengan baik seseorang juga harus punya wawasan yang luas terkait tema tulisan yang diterjemahkan (Misalnya tema: Aqidah, fiqih, hadits, dll.). Sebab terkadang setiap ilmu punya istilah-istilah khusus yang hanya bisa difahami oleh orang yang sudah belajar ilmu itu.
  4. Untuk bisa menerjemahkan dengan baik seseorang juga harus pandai menyusun kata-kata dalam bahasa Indonesia. Jangan sampai dia faham maksud tulisan berbahasa Arabnya, namun salah dalam menyampaikan bahasa Indonesianya.
  5. Untuk bisa menerjemahkan dengan baik seseorang harus banyak latihan.
  6. Diantara sarana latihan menerjemahkan yang bisa digunakan adalah buku-buku terjemahan. Caranya, baca buku terjemahan sekaligus buku aslinya (yang berbahasa Arab). Perhatikan bagaimana penerjemah menerjemahakan kalimat demi kalimat. Jadi modalnya, miliki buku asli yang berbahasa Arab plus terjemahnya. Jika tidak ada, gunakan terjemah al-Qur’an yang ada. Atau bisa juga dengan memanfaatkan sarana latihan yang ada di SINI, di SINI, dan di SINI.

 

 

>>> LANGKAH PRAKTIS

Berikut ini tiga langkah praktis yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan terjemahan yang baik:

 

  1. Fahami arti setiap kata yang ada di dalam tulisan berbahasa Arab yang hendak kita terjemahkan.
  2. Fahami maksud tulisan secara keseluruhan.
  3. Terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang mudah difahami.

 

 

 

Demikian saja. Semoga bermanfaat. Jika ada yang ingin mengoreksi atau menambahkan saya persilakan.

 

Wallahu a’lam.

 

 

 

Bogor, Ahad waktu Sahur 27 Jumadal Akhiroh 1435H/27 April 2014

 

Muhammad Mujianto al-Batawie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: