Cerita Pengalaman Belajar Bahasa Arab di Pondok Selagi 1 SMP

syarah alfiyyah[Cerita Pengalaman Belajar Bahasa Arab di Pondok Selagi 1 SMP ]

Sejujurnya, saya kalau baca kitab pelajaran Nahwu apalagi Sharaf versi terjemahan, maupun karya anak negeri, malah sering pangling dan bingung. Karena -tanpa bangga karena ini bukan kebanggaan- pondok saya dulu membentuk karakter sedari buta Arabic sudah dicekoki buku Arabic.

Dulu, waktu kami masih kelas 1 SMP (di pondok saya namanya Mutawassithah), sedari awal tak satupun kitab berhuruf Indonesia kita punya untuk belajar bahasa Arab, terlebih ilmu syar’i. Memang ada, kitab At-Tashriif, dalam disiplin ilmu sharaf, menggunakan bahasa Melayu (Indo). Tetapi tulisannya Arab total.

Jadi, terbentuk sedari awal untuk tenggelam dalam Arabic. Dahulu tentu saja kami kesulitan di awal-awal. Masih 1 SMP namun sudah dicekoki bentuk-bentuk letter yang asing bahkan seringkali digunduli rambut-rambutnya. Tapi, really, justru itulah yang membentuk kami kemudian hari.

Ust. Nizar Sa’ad Jabal, mudir kami era 2000-01, pernah berkata, “Ana lebih nyaman baca kitab Arabic daripada kitab Indonesia.” Kita tanya, “Kenapa, ustadz? Bukannya kitab Indonesia lebih mudah?”

Dulu kami bertanya begitu karena masih mbalelo. Kini, kami ngerti jawabannya. Ini jawabannya: “Membaca kitab Indonesia relatif lebih mudah, namun membaca kitab Arabic absolutely lebih indah.”

Dan kita lebih baik jangan mau yang mudah-mudahnya saja dalam belajar, karena kesulitan itu baiknya sebelum kemudahan. Tidak sebaliknya! Kesulitan itu indah karena setelahnya ada kemudahan. Makanya, kami katakan: “Membaca kitab Indonesia relatif lebih mudah, namun membaca kitab Arabic absolutely lebih indah.”

Untuk dirasah bahasa Arab kelas 1 SMP, kurikulum pondok kami -Al-Irsyad Tengaran- kala itu menggunakan:

–> Kitab An-Nahw Al-Waadhih (dirasat Nahwu)
–> Kitab At-Tashriif (dirasat Sharaf)
–> Kitab Al-Arabiyyah li An-Naasyi’iin (dirasat praktek konversasi Arabic)
–> Kitab Al-Qiraa’ah Ar-Raasyidah (dirasat praktek reading Arabic)
–> Kitab Tadriibaat Ala Al-Anmaath (dirasat praktek structuring Arabic)

Akan saya bincangkan satu per satu. Ketahuilah juga, 5 kitab tersebut kami pelajari sekaligus dalam tiap semester. Jadi, bukan satu kitab tunggu habis dulu lalu memulai belajar kitab lain. Tidak. Semuanya!

[1] Kitab An-Nahw Al-Waadhih adalah kitab sakti bin keramat yang dahulu memusingkan sebagian kami. Di antara kami yang terpusingkan adalah saya sendiri. Wong buto Arabic kok langsung dicekoki Nahwu dengan contoh kalimat atau praktek dan penjelasan yang memusingkan wong buto?! Tapi, tetap kami ‘dipaksa’ mempelajari itu. Dulu, Ustadz bernama Zaenal Abidin sempat ajari kami saat masih 1 SMP. Kitab ini -dahulu- kertasnya adalah kertas koran. Baunya ya gitu deh. Covernya juga gampang sobek kalau disobek. Kalau tidak disobek, ya tidak sobek lah. Gimana sih?! Kitab ini, kalau dipakai mengajar untuk pemuda-pemudi non-pesantren sekarang, sepertinya akan menjadi pemicu kemualan. Akan pada mabuk berat, sekalipun pelajarnya adalah mahasiswa. Untuk jenjang SMP, kami menghabiskan 3 kitab An-Nahw Al-Waadhih, tapi sebenarnya tidak seluruh materi diraup. Kadang dilewati.

[2] Kitab At-Tashriif. Nah, pelajaran Sharaf ketika itu di awal saya masuk pesantren, adalah pelajaran yang saya pertanyakan, ‘Ini opo to karepe?’ Ya, saya waktu itu heran kok ini pelajaran mirip rumus-rumus geje. Apa mau ngedukun kali ya? Sudah gitu, belajarnya pake ‘nyanyi’ pula. Yang mengajar kami waktu itu adalah ustadz muda yang baru lulus pondok, Ust. Khuzaemi -hafidzahullah-. Awalnya saya agak terkacaukan dalam pelajaran ini. Tapi, setelah ujian harian yang lumayan gagal, Allah memberikan rasa suka buat saya akan pelajaran ini. Akhirnya, pelajaran Sharaf ini yang paling saya sukai dari selainnya. Sedari lama, ada cita-cita ingin mengajar manusia ilmu Sharaf ini dengan metode ngajar Ust. Khuzaemi. Yakni, dengan nada yang persis. Saya masih ingat sekali nadanya. Selalu akan saya ingat. Semoga kalau kesampaian nanti mengajar sharaf -baik untuk anak kecil atau anak yang sudah bisa melahirkan anak kecil-, saya bisa melakukannya dan semoga Ust. Khuzaemi mendapat limpahan pahalanya juga sampai akhir yang tidak diketahuinya.

[3] Kitab Al-Arabiyyah li An-Naasyi’iin. Kitab ini ada 6 jilid. Untuk kelas 1 SMP, akan menghabiskan 2 jilid. Isinya praktek merangkai kata, kalimat atau membentuk percakapan. Sebenarnya ada kemiripan dengan Al-Arabiyyah baina Yadaik atau Duruus Al-Lughah. Hanya, kitab ini -menurut saya- lebih sakti dari kedua kitab yang saya sebut tadi. Sebabnya: [1] Saya terbentuk dengan kitab ini, [2] Ia lebih sederhana dan cocok sekali untuk pemula, [3] tampak jadul. Kalau Al-Arabiyyah baina Yadaik sebenarnya tidak cocok untuk pemula. Ia lumayan berat. Tidak akan terserap di kekerasan otak-otak yang lemah atau manja (maunya enak saja). Dan Duruus Al-Lughah, untuk saat ini, adalah kitab terbaik untuk para pemula. Ya, untuk saat ini. Karena Al-Arabiyyah li An-Naasyi’in sudah tidak nge-trend lagi. Sudah jadul. Tapi, biar jadul, namanya selalu ada di hati. Apalagi ustadz yang mengajari saya, yaitu Ust. Nur Hayyun -hafidzahullah-.

[4] Kitab Al-Qiraa’ah Ar-Raasyidah. Saya selalu ingat kitab ini beserta kenangan tentangnya. Yang mengajari saya dahulu adalah Ust. Khuzaemi. Ia adalah kitab yang berisikan beberapa cerita, faedah bahkan syair dalam bahasa Arab. Yang paling terkenang adalah syair tentang Al-Midzyaa’ (Radio). Itu paling pertama kami pelajari. Ust. Khuzaemi mengajari kami menghafal syair tersebut dengan nada. Nadanya masih saya ingat sampai sekarang. Nada tersebut sangat cocok untuk dipakai juga menghafal nadzam-nadzam ilmu, seperti Nadzam Alfiyyah, Nadzam Ajrumiyyah (versi Imrithy), Nadzam Al-Waraqaat (versi Imrithy), dan nadzam rajaz lainnya. Indah sekali. Nadanya benar-benar mengingatkan saya akan kesederhanaan pondok dulu. Kalau pondok sekarang, ya sudah beda keadaannya. Anak-anaknya sudah bisa main HP sih, jadi lebih bisa niru nada ringtone kali, ya?

[5] Kitab Tadriibaat Ala Al-Anmaath. Saya suka kitab ini karena berisikan soal-soal ulik-ulikan sharaf. Terkadang nahwu juga masuk. Kalau di TOEFL, kitab ini seolah melatih kita untuk mahir menyempurnakan structuring dalam kalimat versi Arab. Salah satu jenis soal TOEFL yang cukup rumit adalah structuring, toh? Nah, yang mengajar kami adalah Ust. Nur Hayyun.

Ketahuilah juga, bahwa kitab-kitab di atas tersebut adalah kitab-kitab yang dipakai oleh pondok-pondok tradisional atau yang sering kita sebut pondok NU. Tidak masalah kalau kurikulum di atas adopsi dari mereka. Yang penting, ilmunya, toh? Yang penting, melahirkan kader-kader yang ngerti Arabic, toh?

Jadi, begitulah ‘pemaksaan’ terhadap kami dahulu. Baru mau melek Arabic, sudah dicekoki 5 kitab. Nah, kalau sudah tahu begitu, sekarang, untuk anak-anak muda yang kepengen ngarti bahasa Arab, ya jangan mau enaknya saja. Cuma mau belajar satu buku lalu selesai? Lalu merasa sudah ngerti dan bisa baca kitab? Kok, enak sekali dan polos sekali mikirnya, ya? Mbok yo ditata kembali dan konsultasi juga. Jangan sampai ngira-ngira dan punya pendapat pribadi ‘kalau belajarnya begini dalam jangka waktu segitu, saya akan bisa menamatkan begini begitu’, itu pandangan pribadi, toh? Jangan sampai merasa kuat di awal dan kencang-kencangan, lalu pas pertengahan baru terasa beratnya belajar, malah putus asa.

Butuh waktu. Ya, butuh waktu. Belajar itu ya tidak cuma setahun dua tahun. Seumur hidup seharusnya. Biarpun seumur hidup belajar pun, tetap tidak akan kuasai semua ilmu, toh? Jangan terburu-buru kalau begitu.

Terburu-buru itu bisa disebabkan oleh beberapa faktor:

[1] Tidak atau kurang ikhlas. Ini yang paling paling paling sering. Paling banyak menjangkiti anak muda sekarang. Karena pengen cepat sampai, karena cepat-cepat ingin seperti fulan yang hebat sudah bisa ceramah begini begitu dan semacamnya. Masalah hati perlu diperhatikan.

[2] Terbiasa nginstan. Pengaruh teknologi juga. Karena biasa belajar via internet, lalu merasa belajar via kitab itu lama masanya dan akhirnya pengin cepat khatam. Semangat sekali kalau kajiannya cepat menyelesaikan bab 1, lalu bab 2, akhirnya waaaa khataaam! Ketika ditanya ‘apa saja yang sudah dipelajari?, eeeh…lupa semuanya. Memangnya belajar itu tujuannya untuk main cepat-cepatan atau untuk memahami dan mempraktekkan?

[3] Karakter asli. Kalau ini, tergantung orangnya.

Dan kelemahan vital anak muda zaman sekarang ada di dua nomor terawal: [1] Tidak/kurang ikhlas!, [2] Sukanya nginstan.

Kenapa banyak orang zaman sekarang setengah-setengah kemahirannya?

Imma karena sedari awal tidak/kurang ikhlas…
imma karena memang terbiasa nginstan…

Coba lihat ada muka siapa di kaca itu?

Sumber: http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/548239508550772

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: