# KISAH NYATA: PROSES LAHIRNYA KITAB FAHIMNA (BAG-2)

Kisah sebelumnya bisa dibaca di SINI

Photo-0167>>> Seleksi Alam

Saya pernah beberapa kali mengajar bahasa Arab. Semuanya tingkat dasar. Dan kitab yang selalu saya jadikan sebagai panduan adalah KITAB AL-MUYASSAR FI ‘ILMIN NAHWI.

Pernah saya mengajar bahasa Arab untuk santri angkatan pertama sebuah Ponpes di Darmaga Bogor yang belum bisa bahasa Arab (Sebelum dimulainya proses belajar mengajar di Pondok. Setelah proses belajar-mengajar dimulai, saya memilih untuk keluar dari pondok dan membuat penerbitan buku Islam). Pernah juga saya mengajar untuk masyarakat lingkungan perumahan di daerah Ciomas Bogor, Dll (Maksudnya: Dan Lupa Lagi he..he…he….).

Namun, selama mengajar, tidak ada satupun yang pernah selesai mempelajari satu kitab. Selalunya berhenti di tengah jalan. Dan hal ini ternyata dialami pula oleh hampir semua orang yang saya kenal yang pernah mengajar bahasa Arab untuk masyarakat umum di luar pondok pesantren.

Seorang ustadz pernah saya dengar bercerita begini.

“Waktu ana bikin pelatihan bahasa Arab di rumah, awal-awal yang datang 50-an orang. Tapi sekarang tinggal 5 orang doang….”.

Saat mengajar bahasa Arab untuk mahasiswa IPB pun demikian. Awal-awal belajar, peserta yang hadir lumayan banyak. Namun beberapa minggu kemudian, mulai terjadi penurunan jumlah peserta. Satu persatu mundur. Kebanyakannya karena alasan kuliah.

“Biasa mas, seleksi alam….”

Demikian ucap salah seorang murid saya, saat saya menanyakan keberadaan kawan-kawan lain yang tidak hadir. Ya, sepertinya memang demikian. Fenomena ini mirip dengan seleksi alam. Siapa yang memiliki tekad kuat untuk bisa bahasa Arab, maka dialah yang akan terus bertahan.

Namun hal ini membuat fikiran saya terusik. Menurut saya, hal ini tidak bisa terus menerus dibiarkan. Saya harus mengambil tindakan. Sebab sayang jika kita sudah menghabiskan waktu, tenaga, fikiran, dan juga uang untuk ikut pelatihan bahasa Arab, namun belajarnya tidak sampai selesai dan kita pun tidak mendapatkan bekas yang berarti setelah belajar.

Seperti salah seorang kawan saya. Dia sudah beberapa kali ikut pelatihan bahasa Arab. Namun semuanya tidak pernah dia selesaikan. Setelah sekian lama belajar, dia tetap tidak bisa membaca kitab gundul. Bahkan untuk membuat cerita pendek yang sederhana sekalipun dia belum bisa. Sungguh saya sekali, bukan?

Mestinya, dengan beberapa minggu pertemuan saja, seseorang itu sudah faham arah pembelajaran ilmu Nahwu dan Shorof. Diapun mestinya sudah bisa membuat cerita pendek yang sederhana. Minimal tentang aktifitas yang ada di sekitar dia, seperti di rumah, di kamar, di masjid, dll.

Saya pun kemudian berfikir. Dan saya terus berfikir di setiap kesempatan, Gimana caranya supaya mereka yang tidak bisa menyelesaikan pelajaran bisa tetap belajar bahasa Arab, meski hanya sendirian di dalam kamar mereka masing-masing? Gimana caranya supaya mereka bisa memahami bahasa Arab meski tanpa adanya guru yang mengajar mereka langsung? Gimana caranya supaya dalam waktu singkat mereka bisa memahami arah pembelajaran ilmu Nahwu-Shorof dan bisa membuat cerita pendek dalam bahasa Arab?

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menggelayut di benak saya. Sehingga waktu itu saya pun terbersit fikiran untuk membuat sebuah buku Nahwu yang memiliki kriteria sebagai berikut:

  • Ringkas, sehingga bisa dipelajari dalam waktu yang tidak terlalu lama.
  • Berbahasa Indonesia, sehingga bisa dibaca sendiri tanpa harus minta bantuan orang lain untuk menerjemahkannya isinya.
  • Penjelasannya mudah, sehingga bisa difahami sendiri tanpa harus tergantung dengan keberadaan seorang guru.
  • Banyak latihannya, sehingga bisa dijadikan sebagai sarana muroja’ah dan untuk mengukur kemampuan.

Akhirnya, saya pun tergerak untuk menuliskan sebuah buku Nahwu. Saya ingin menuliskan sebuah buku yang ketika dibaca seolah-olah buku itu adalah guru yang sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas.

Ada beberapa judul yang sudah saya persiapkan. Mau tau judul bukunya apa saja? Silakan simak cerita berikutnya.

Insya Allah bersambung….

Bogor, Ahad Pagi 18 Rabiul Akhir 1436 H/8 Februari 2015

Muhammad Mujianto al-Batawie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: