# KISAH NYATA: PROSES LAHIRNYA KITAB FAHIMNA (BAG-7)

Kisah sebelumnya bisa dibaca di SINI

ikhlas >>> Di Saat-saat Kritis

Saat masih aktif menulis buku, ke mana-mana saya selalu membawa buku tulis ukuran saku. Biasanya saya selipkan di kantong baju bersama sebilah pulpen. Fungsinya ialah untuk menangkap ide jika tiba-tiba muncul saat saya sedang dalam perjalanan. Biasanya ide itu kemudian saya simpan berupa judul sementara. Terkadang dilengkapi dengan judul-judul bab sementara.

Dalam buku saku yang saya punya, puluhan ide sudah berhasil saya tangkap. Puluhan judul buku sudah menanti untuk segera dituliskan. Namun, karena tangan saya cuma dua dan fasilitas menulis yang saya miliki juga terbatas, akhirnya saya cuma bisa menuliskannya satu-satu. Tidak bisa langsung semua.

ROKOK 1

Saya sudah lupa, berapa buku yang berhasil saya tulis di dua bulan awal saya menggeluti dunia penulisan buku. Sepertinya lebih dari 3 buku. Semuanya saya coba kirimkan ke penerbit. Sambil menunggu kabar dari penerbit, ada buku-buku yang kemudian saya print, lalu saya fotokopi dan jilid. Setelah itu saya jual ke teman-teman.

Waktu itu saya sangat yakin buku saya bakalan diterima oleh penerbit. Sebab, hampir semua teman yang membaca buku saya memberi respon yang positif. Hampir semuanya bilang bagus. Hal inilah yang membuat saya lebih semangat dan giat lagi menulis buku.

Pada cerita sebelumnya telah saya sampaikan bahwa untuk menunggu kabar dari penerbit tentang diterima atau tidaknya buku kita butuh waktu sekitar 2-3 bulan. Bahkan ada juga penerbit yang tidak memberi batas waktu. Kemudian, ada juga penerbit yang meminta kita menunggu 2 bulan, tapi setelah dua bulan berlalu tidak memberi kabar juga.

Pernah saya punya pengalaman begini. Awalnya ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkan buku saya. Mereka mengatakan akan memberikan uang DP sebesar 1 juta rupiah. Namun, setelah dua bulan menunggu, tetap tidak ada kabar. Setelah saya tanyakan, mereka malah memutuskan untuk batal menerbitkan buku saya.

Pernah juga saya punya pengalaman, ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkan buku saya. Kemudian saya disodorkan surat perjanjian kerjasama. Salah satu butir perjanjian yang tercantum di sana bunyinya begini:

“Jika dalam waktu setahun penerbit belum menerbitkan buku penulis, maka naskah dikembalikan kembali ke penulis”.

Lah, kalau begitu, berarti buku saya nggak jelas dong statusnya! Kirain saya kalau naskah sudah diterima penerbit pasti bakalan diterbitkan.

Sebenarnya banyak pengalaman berkesan yang saya alami bersama para penerbit. Kebanyakannya berupa pengalaman pahit. Namun saya tidak ingin menceritakannya di sini semua. Mungkin di lain waktu dan tempat saya akan ceritakan semuanya. Semoga nantinya bermanfaat untuk dijadikan sebagai pelajaran (Saat ini saya punya rencana menulis buku berjudul “JANGAN JADI PENULIS!”).

Enam(?) bulan pun berlalu. Namun, tidak ada satupun buku saya yang diterbitkan. Penolakan demi penolakan yang justru datang. Kondisi keuangan pun semakin menipis. HP saya yang bagus sudah saya ganti dengan HP murah yang kadang suka mati sendiri. Beberapa kitab bahasa Arab yang saya punya pun sudah saya jual untuk ongkos menulis buku (Kalau ingat pengalaman yang satu ini, saya jadi sedih :().

Hingga akhirnya, di saat kritis, datanglah berita gembira. Salah satu penerbit yang pernah saya kirimi naskah tiba-tiba menelpon saya.

Bersambung ke SINI

Bogor, Kamis Pagi 22 Rabiul Akhir 1436 H/12 Februari 2015

Muhammad Mujianto al-Batawie

One Response to # KISAH NYATA: PROSES LAHIRNYA KITAB FAHIMNA (BAG-7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: