Di balik buku Al muyyassar fiy ilmi an nahwi

USTADZ ACENGMENTARI mulai menyingsing dari punggung pegunungan. Sinarnya menghangatkan kawasan Rancabango, Kudangsari, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, seiring menghangatnya kopi yang menemani obrolan antara KH Aceng Zakaria dengan ketiga tamunya dari majalah Suara Hidayatullah dan Hidayatullah.com.

Sabtu pagi di akhir Sya’ban 1435 H (28/6/2014) itu, Aceng Zakaria semakin bersemangat menceritakan lanjutan kisah perjalanannya menggeluti dakwah. Salah satunya dakwah dengan pendidikan dan tulis-menulis.

Kiai ini menjadi terkenal se-Indonesia, bahkan luar negeri melalui kitab Al-Muyassar Fi ‘Ilm Al-Nahwi. Buku karangannya ini merupakan rangkuman metode praktis dan mudah memahami ilmu nahwu.

Namun, Aceng mengakui, bukan perkara mudah menjadikan buku itu bisa diminati pembacanya. Dia terus mencoba berbagai teknik termudah hingga muncullah kitab Muyassar.

“Saya ingin mengubah persepsi (bahwa) nahwu-sharaf itu ilmu yang sulit,” ujar pria yang telah mengarang 60 lebih buku.

Menariknya lagi, awalnya berbagai bukunya dia tulis dulu dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hal ini berlangsung hingga mencapai 50 kitab berbagai judul.

Mengapa? “Cepet (menulis) bahasa Arab daripada terjemahnya. Apalagi diterjemahkan ke bahasa Sunda, aduh, susah sekali,” aku kiai yang menulis berbagai tema kehidupan dan keagamaan ini.

Aceng pun mengungkap, meski tak bergelar formal, dia punya metode khusus dalam mengembangkan keilmuannya. Yaitu belajar, menghafal, mengulanginya, mengajarkannya, memakainya berdakwah, menuliskannya, lalu menjadikannya bahan dialog dengan para ulama dan kiai.

Pada tahun 1990-an Aceng pernah jatuh sakit. Namun rupanya ujian ini tidak menyurutkan semangatnya menulis, bahkan makin menjadi-jadi.

“Saya sakit waktu itu mah, jadinya nulisnya lebih cepat. Sampai bisa lima buku (selesai) selama 2 bulan (sakit),” kenang pria berbadan agak gempal ini.

Apresiasi dari Mesir

Pada tahun 2000-an, Aceng menemui Prof Umar Hasyim, mantan Rektor Universitas Al-Azhar di Mesir. Aceng pun menunjukkan kitab “Al-Hidâyah fî Masâ’il Fiqhiyyah Muta‘âridhah” karangannya. Saat melihat buku pembahasan fikih itu, Prof Umar tercengang.

“Kok orang kampung bisa nulis begini? Anda kuliah?” ujar syaikh Al-Azhar itu ditirukan Aceng.

Prof Umar pun memberikan Kata Pengantar di buku itu. “Dia doktor hadits, tertarik, (lalu) memberikan sambutan. Saya banyak mengupas tentang hadits (di Al-Hidayah),” ujar Aceng tentang profesor.

Kesibukan Aceng saat ini lebih banyak di Garut, mulai mengajar ribuan santrinya di Rancabango, mengawasi perkebunan dan sawahnya di belakang pesantren, hingga berdakwah ke masyarakat umum. Bahkan Aceng sekarang adalah Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Persis Garut.

Hingga kini, kegiatannya mengkaji kitab dan menulis terus berlangsung. Pantauan Hidayatullah.com Sabtu itu, rumahnya dipadati ribuan koleksi kitab-kitab berbahasa Arab. Ditambah buku-buku cetakan karangannya.

Semua buku karangannya ditulis tangan. Media ini sempat melihat beberapa manuskripnya yang tersimpan rapi.

“Sampai sekarang masih tulis tangan. Saya serahkan ke anak saya untuk ngetiknya di komputer, (yang) bahasa Arab dan bahasa Indonesia,” ujar anak dari (almarhum) H Ahmad Kurhi dan (almarhumah) Menoh ini.

Ada cerita yang sedikit menggelitik. Aceng memiliki 8 putra-putri saat ini. Kesemua anaknya itu diberi nama awalan dengan filosofi “majrur” dalam ilmu nahwu.

Majrur artinya yang ditarik atau diturunkan, maksudnya adalah isim (kata benda) yang berharokat ‘jar’ (kasroh atau baris bawah). Kalau dalam pengucapan bahasa Indonesia dibaca “i”. Maka, kedelapan anaknya dia berikan nama awal yang berakhiran “i”.

Mereka adalah, “Evi, Yanti, Lutfi, Yudi, Rifki, Husni, Zaki, dan Rahmi,” sebut Aceng.

Dia pun menjelaskan, filosofi majrur atau harakat bawah maksudnya agar anak-anaknya tetap merendah.

Apakah dia berharap mereka juga berpendidikan rendah seperti bapaknya? Tentu tidak!

Justru, aku Aceng, dia terus mendorong putra-putrinya bisa lebih baik dari dirinya. Termasuk dengan berusaha menyekolahkan mereka setinggi mungkin, melebihi gelar Strata 1 (S1), S2, bahkan S3.

“Kalau ada S4, ya S4-lah,” guyonnya, sambil sesekali menyeruput kopinya yang mulai dingin.*

Rep: Muh. Abdus Syakur
Editor: Syaiful Irwan

 

# COPAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: